Dear semua sahabat, selama hampir 6 tahun lebih saya benar-benar vakum menulis di blog ini akhirnya pada kesempatan ini saya mencoba belajar mengetik dan merangkai huruf demi huruf untuk dapat menjadi sebuah cerita yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi sahabat semua.
Kali ini penulis akan membagikan sebuah cerita tentang perjalanan saya mendaki sebuah gunung. Ya sekarang saya menjadi seorang pendaki hahaha. Untuk cerita bagaimana proses saya bisa menjadi seorang pendaki yang merupakan sebuah kegiatan alam bebas yang dalam beberapa tahun belakangan mulai digemari di indonesia akan saya ceritakan lebih detail pada tulisan yang lain. Oke sekarang kita akan fokus pada cerita "Pendakian Gunung Lawu".
Berawal pada awal bulan Juli saya mendapat sebuah WA dari seorang sahabat yang menangabarkan ajakan mendaki gunung lawu, saya berpikir sejenak untuk menjawab WA tersebut. Kemudian saya pikir sambil melihat-lihat kalender dan akhirnya saya menerima ajakan tersebut,dan dijadwalkan pada tanggal 26 kita akan berangkat dari Tangerang.
Bukan hanya saya yang ikut namun Anak pertama saya yang berumur 5 Tahun 1 Bulan bernama Dzakwan Hakim Alfaruq pun akan saya ajak ikut mendaki. Untuk profil dan kegiatan anak saya Awan (panggilan Dzakwan) mendaki dan segala macam tentang dia akan saya tulis di bagian judul yang lain.
Perencanaan 16 - 25 Juli
Setelah ada kepastian waktu perjalanan mulai lah saya membuat perencanaan, persiapan pertama adalah menggenjot fisik kemudian booking tiket bus. Biaya tiket Bus Tangerang - Solo Tirtonadi (Bus Rosalia) Rp. 130.000,-
Keberangkatan 26 - 27 Juli
Kemudian tibalah waktu keberangkatan, jumlah anggota yang berangkat, Saya, Imron, Odhex dan Dzakwan (anak saya). Perjalanan Tangerang - Solo ditempuh dalam waktu 12 Jam, sampailah kami di terminal tirtonadi solo pukul 03.00 WIB kemudian dilanjut naik bis 3/4 arah Terminal Tawangmangu biaya Rp. 15.000 /orang. Sesampainya di terminal tawangmangu kami istirahat sambil sarapan dan ngopi. Setelah ini pukul 06.45 kami berangkat menuju Basecamp Cemoro Sewu menggunakan Mobil L300 dengan Biaya Rp. 10.000,-
Sampai di Basecamp Cemoro Sewu kemudian kami melakukan pengecekan ulang perlengkapan, sambil mencari bahan-bahan logistik yang masih kurang. Kemudian membeli biaya masuk sebesar Rp. 0
Pendakian Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
![]() |
| sumber foto : infopendaki.com |
Basecamp - Pos 1 Wes-wesan
Pukul 10.00 kami mulai pendakian melalui jalur cemoro sewu. Pendakian menuju pos 1 Wes-wesan merupakan jalan bebatuan yang tersusun rapi. Pepohonan sepanjang jalan menuju pos 1 belum terlalu rapat. Pos 1 ditandai dengan adanya warung-warung dan sebuah Pos. Waktu tempuh dari basecamp - pos 1 kami lewati dengan catatan waktu 1 jam 30 Menit.
Awan (anak saya) dari basecamp - pos 1 ini tanpa kendala untuk berjalan.
Pos 1 - Pos 2 Watu Gedeg
![]() |
| Kotak2: Imron Kaos Hitam: Odhex Kaos Biru: Dzakwan Yg Duduk: Saya |
Menuju pos 2 jalanan mulai sedikit menanjak berupa jalan bebatuan yang akan membuat otot-otot kaki mulai menegang yang akhirnya sedikit demi sedikit membuat kaki terasa capek. Disini juga Awan mulai mengeluhkan kondisi jalan dengan sekali-kali berhenti untuk duduk dan istirahat.
Sampailah di pos 2 dengan ditandai dengan tebing di sebelah kanan pos di sebelah kiri dan warung-warung penduduk. Waktu yang kami tempuh dari Pos 1 - Pos 2 adalah 2 jam 30 Menit.
Pos 2 - Pos 3 Watu Gede
Kami istirahat di Pos 2 hampir 45 menit jam saat itu menunjukan pukul 14.45. Karena hari sudah menjelang sore saya berpesan ke dua kawan saya agar mereka jalan dahulu sampai ke Pos 4 dan saya berjalan dengan Awan dibelakang mereka. Dan nantinya jika mereka sudah sampai mereka bisa turun dan bergantian menggendong anak saya. Saya mengambil keputusan ini dengan asumsi dikarenakan sudah sore dan melihat kondisi anak saya yang terlihat kecapean. Kemudian saya dan anak saya berjalan santai sampai ke pos 3.
Menuju pos 3 Watu gede jalanan hampir sama dengan pos sebelumnya berupa bebatuan dan menanjak. Dikarenakan saya membawa anak-anak fokus saya terbagi mengawasi Awan agar jangan sampai ceroboh menginjakkan kaki karena jalanannya berupa batu-batuan yang tajam. Estimasi waktu tempuh sampai ke pos 3 adalah 3 jam, hal ini dikarenakan kondisi tubuh anak saya terlihat kelelahan menghadapi jalur pendakian gunung lawu via cemoro sewu ini.
Di pos ini pun kawan saya tidak ada, sepertinya mereka terus melanjutkan perjalan sampai pos IV. Hari mulai gelap jam menunjukan pukul 17.15 saya memakaikan jaket kaos lengan panjang dan jaket waterproof ke tubuh bocah yang terlihat mulai meletih dan kelelahan.
Pos 3 - Pos 4 Watu Kapur
Dengan kondisi anak saya yang kelelahan kami pun berjalan setapak demi setapak melewati trek bebatuan yang menanjak dan berkelok-kelok. Dikarenakan kondisi gelap anak saya agak ketakutan dan tidak mau berjalan di depan saya. Terkadang Awan berucap ngantuk disaat itu pula saya berucap jangan sampai tertidur usahakan mata terjaga. Dengan langkah yang mulai gontai saya dorong badannya untuk melewati terjal dan sulitnya trek pendakian ini. Kasihan saya melihat perjuangan Awan untuk memaksakan dirinya berjalan. Terkadang saya pun menggendongnya beberapa meter kedepan untuk memangkas jarak pendakian. Tapi apa daya tubuh saya pun seperti sudah dibatas kemampuannya untuk menggendong anak dengan berat 27 Kg ini dan ditambah beban saya yang kurang lebih 20 Kg.
Disaat-saat genting seperti ini saya diwajibkan untuk dapat mengontrol ketenangan bathin agar saya dapat berpikir dengan jernih dengan di iringi shalawat serta mengucap asma Allah. Di tengah perjalanan kondisi mulai mencekam, waktu itu menunjukan pukul 18.45 anak saya Awan mulai sering berucap ngantuk dan ga kuat lagi untuk berjalan.
Saya memaksakan dia dengan berjalan sambil memapahnya agar cepat sampai di Pos IV tapi sepertinya memang Awan sudah tidak kuat lagi berjalan dan saya raba tubuhnya mulai Dingin dan Menggigil. Tanpa pikir panjang lagi saya mengambil jaket windproof saya dan memakaikannya ke anak saya ini. Tubuh yang sudah mendingin dan mata yang mulai terasa berat untuk dia buka kemudian saya tampar kecil agar dia tetap terjaga. Posisi saat itu saya hanya berdua dan ada sekelompok pendaki lain di bawah dengan jarak 30 Menit. Dengan kondisi badan seperti itu anak saya kemudian saya gendong di depan, sambil tertatih tatih saya berjalan menaiki trek sedikit demi sedikit sambil berteriak minta tolong.
Saya sadar badan saya pun mulai loyo tapi ini demi menyangkut Nyawa seorang anak yang karena ketidakcermatan analisis saya malah menyuruh kawan-kawan saya berjalan duluan dan meninggalkan kami berdua dengan kondisi gelap di tengah jalur pendakian. Ketika saya meminta tolong terdengar jawaban beberapa pendaki di atas posisi saya, dan ternyata saya sudah sampai di pos IV dan jawaban pendaki itu ternyata bukan dari kawan-kawan saya melainkan dari Sekelompok Pendaki dari Semarang. Waktu saat itu menunjukan pukul 19.15 WIB.
Dengan menggendong Anak yang terkena gejala Hypothermia pendaki tersebut dengan sigapnya mengambil anak saya dan memindahkan ke tempat lapang. Kemudian saya langsung membongkar isi Carrier saya dan mengeluarkan matras, 2 buah sleeping bag dan Jaket. Saya rebahkan tubuh anak saya yang dingin itu ke matras membuka semua pakaian yang dia kenakan dan mengganti dengan pakaian baru, dilapisi dua buah jaket yang salah satunya jaket Windproof yang saya kenakan ditambah 2 buah sleeping bag. Tersisa hanya sebagian wajah polosnya saja yang terlihat dengan mata yang memejam karena kelelahan yang mengakibatkan kantuk dan hampir saja nyawanya bisa melayang bila tidak ditangani dengan prosedur yang benar. Baru pertama ini saya langsung mempraktekan penanganan Hypothermia, sebelumnya saya hanya tahu teknis penanganannya hanya melalui Youtube dan Artikel yang tersebar di internet.
Sambil menunggu keadaan anak saya pulih saya pun berbincang dengan kawan-kawan pendaki Semarang, tak lama kemudian ada suara dari atas memanggil manggil nama saya dan orang tersebut adalah pemilik warung di dekat sumber mata air Sendang Drajat. Ternyata bapak tersebut diminta bantuannya untuk turun menjemput saya dan anak saya oleh kawan-kawan saya yang sudah sampai di warungnya. Karena kawan saya juga sudah ngedrop dan tidak sanggup untuk menjemput saya akhirnya bapak pemilik warung di minta bantuannya.Tanpa pikir panjang lagi saya mengikatkan tubuh anak saya ke punggung Bapak pemilik warung (saya lupa nama beliau).
Tepat pukul 21.00 saya sampai di Sumber Mata Air Sendang Drajat dan di sebelahnya persis ada warung sedangkan anak saya sudah sampai 40 menit yang lalu dengan posisi sedang tertidur lelap. Saking lelahnya saya meminta dibuatkan makan Mie Rebus Telor + Nasi kemudian mengganti pakaian anak saya dengan pakaian kering dan menambahkan Thermal Blanket. Setelah itu dengan kondisi fisik yang kelelahan akhirnya kami tertidur pulas di warung tersebut.
Sendang Drajat - Hargo Dalem
Suara-suara gaduh dari luar warung akhirnya membangunkan kami berempat, ternyata Fajar pagi sudah menampakan dirinya, menandakan hari sudah pagi. Dengan peristiwa semalam akhirnya kami bersepakat untuk menambah waktu menginap menjadi 1 malam lagi. Setelah menyelesaikan sarapan pagi kami mempersiapkan diri dengan mengemasi barang bawaan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Hargo Dalem. Kondisi anak saya disini sudah sangat bugar sekali, sampai-sampai sarapan pun dia menghabiskan 2 porsi makanan. Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT.
Setelah semua barang terkemasi, perut pun sudah terisi penuh kami berempat berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih kepada pemilik warung untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Hargo Dalem.
30 Menit kemudian sampailah kami di warung tertinggi di pulau Jawa siapa lagi kalo bukan Warung Mbok Yem. Tanpa pikir panjang kami mencari spot untuk mendirikan tenda. Kami bersepakat untuk mendirikan tenda tepat di belakang Warung Mbok Yem. Seperti biasa setelah tenda berdiri kami membongkar Logistik Makanan dan mulai memasak untuk menambah isi perut. Sambil menunggu kawan-kawan memasak anak saya ini tidak sabaran sekali pengen cepet-cepet makan, yasudah saya ajak ke warung mbok yem dan memesan 1 porsi Mie Rebus Telur dan 1 Porsi Nasi Telur Ceplok. Hidangan sederhana yang sangat menggugah selera jikalau dinikmati di puncak gunung. Kemudian makan lah anak saya ini dengan lahapnya, yang harusnya itu nasi telor ceplok jatah saya malah dia embat juga sampai habis. Masya Allah ternyata anak saya masih belum kenyang juga. Tapi sebagai orang tua apapun yang membuat anak senang pastinya saya pun ikut senang juga, padahal saya pengen juga, hehehe.
Setelah selesai acara makan, kami berdiskusi rencana kedepannya dan disepakati bahwa akan mendaki puncak pada pukul 15.00 , tak berselang lama waktu menunjukan pukul 12.00 WIB kami akhirnya mencari sela-sela di sekitaran tenda untuk sejenak merebahkan tubuh sebelum muncak di sore hari.
Jam menunjukan pukul 14.30 kami bergantian terbangun dari tidur siang, dan segera mempersiapkan diri untuk segera melangkahkan kaki ke puncak tertinggi Gunung Lawu. Setelah persiapan selesai tibalah waktunya berangkat jam menunjukan pukul 15.30 WIB. Waktu pendakian diperkirakan memakan waktu 30 Menit.
Tak terasa kaki yang dilangkahkan sedikit demi sedikit akhirnya mencapai puncak Gn. Lawu atau biasa disebut Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 Mdpl. Seperti biasa layaknya kebanyakan orang setelah mencapai puncak akan segera melaksanakan ritual Foto-foto dan Selfie. Kami pun segera mengambil peralatan untuk memotret. dan berikut hasil seadanya :
Sambil menunggu keadaan anak saya pulih saya pun berbincang dengan kawan-kawan pendaki Semarang, tak lama kemudian ada suara dari atas memanggil manggil nama saya dan orang tersebut adalah pemilik warung di dekat sumber mata air Sendang Drajat. Ternyata bapak tersebut diminta bantuannya untuk turun menjemput saya dan anak saya oleh kawan-kawan saya yang sudah sampai di warungnya. Karena kawan saya juga sudah ngedrop dan tidak sanggup untuk menjemput saya akhirnya bapak pemilik warung di minta bantuannya.Tanpa pikir panjang lagi saya mengikatkan tubuh anak saya ke punggung Bapak pemilik warung (saya lupa nama beliau).
Tepat pukul 21.00 saya sampai di Sumber Mata Air Sendang Drajat dan di sebelahnya persis ada warung sedangkan anak saya sudah sampai 40 menit yang lalu dengan posisi sedang tertidur lelap. Saking lelahnya saya meminta dibuatkan makan Mie Rebus Telor + Nasi kemudian mengganti pakaian anak saya dengan pakaian kering dan menambahkan Thermal Blanket. Setelah itu dengan kondisi fisik yang kelelahan akhirnya kami tertidur pulas di warung tersebut.
Sendang Drajat - Hargo Dalem
Suara-suara gaduh dari luar warung akhirnya membangunkan kami berempat, ternyata Fajar pagi sudah menampakan dirinya, menandakan hari sudah pagi. Dengan peristiwa semalam akhirnya kami bersepakat untuk menambah waktu menginap menjadi 1 malam lagi. Setelah menyelesaikan sarapan pagi kami mempersiapkan diri dengan mengemasi barang bawaan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Hargo Dalem. Kondisi anak saya disini sudah sangat bugar sekali, sampai-sampai sarapan pun dia menghabiskan 2 porsi makanan. Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT.
Setelah semua barang terkemasi, perut pun sudah terisi penuh kami berempat berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih kepada pemilik warung untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Hargo Dalem.
30 Menit kemudian sampailah kami di warung tertinggi di pulau Jawa siapa lagi kalo bukan Warung Mbok Yem. Tanpa pikir panjang kami mencari spot untuk mendirikan tenda. Kami bersepakat untuk mendirikan tenda tepat di belakang Warung Mbok Yem. Seperti biasa setelah tenda berdiri kami membongkar Logistik Makanan dan mulai memasak untuk menambah isi perut. Sambil menunggu kawan-kawan memasak anak saya ini tidak sabaran sekali pengen cepet-cepet makan, yasudah saya ajak ke warung mbok yem dan memesan 1 porsi Mie Rebus Telur dan 1 Porsi Nasi Telur Ceplok. Hidangan sederhana yang sangat menggugah selera jikalau dinikmati di puncak gunung. Kemudian makan lah anak saya ini dengan lahapnya, yang harusnya itu nasi telor ceplok jatah saya malah dia embat juga sampai habis. Masya Allah ternyata anak saya masih belum kenyang juga. Tapi sebagai orang tua apapun yang membuat anak senang pastinya saya pun ikut senang juga, padahal saya pengen juga, hehehe.
![]() |
| Dzakwan Hakim Alfaruq |
![]() |
| Saya dan Imron berpose, Odhex dan Dzakwan memasak |
Jam menunjukan pukul 14.30 kami bergantian terbangun dari tidur siang, dan segera mempersiapkan diri untuk segera melangkahkan kaki ke puncak tertinggi Gunung Lawu. Setelah persiapan selesai tibalah waktunya berangkat jam menunjukan pukul 15.30 WIB. Waktu pendakian diperkirakan memakan waktu 30 Menit.
![]() |
| Pose disaat mendaki puncak Gn. Lawu |
![]() | ||
| Tugu Puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl |
![]() | |
| Bunda Awan sudah sampai di puncak nih!!! |
![]() |
| Menikmati fajar tenggelam |















No comments:
Post a Comment